Ikan Mas dan Kucing Baik Hati

Pagi yang cerah membangkitan semangat mereka, dengan sedikit sinar matahari yang memantul di badan, gerombolan ikan berenang hilir mudik dengan tenang. Keelokan dan keanggunannya di perlihatkannya dengan berenang bersama dan arah yang sama.
‘’Mas, tidaklah mereka akan mengambil salah satu dari kita lagi untuk menjadi santapan mereka?’’ Tanya Nila.
‘’Janagn berburuk sangka begitu! Kita syukuri nikmat pagi cerah ini dengan ceria. Masalah kita jadi santapan mereka, Tuhan telah mentakdirkannya. Tapi kita berusaha dulu untuk hidup lebih panjang’’.
Lalu Nila itu meningggalkannya bergerombol dengan yang lain.Sementara Mas kini masih berenang di tepian. Setelah mendengar pertanyaan Nila, Mas mereasa ada kecemasan dalam hatinya. Mas memandangi semua temannya, Dia tidak ingin kehilangan satu pun dari mereka. Mereka telah menjadi saudaranya yang telah lama hidup bersama.
Byur….Byur ….., seketika Mas telah berada di dalam jaring.
Nila berteriak :’’ Mas….Mas… !’’
‘’ Adiku, lanjutkanlah hidupmu di sana dengan tenang !’’
Nila seketika tersedu menangis melihat kakaknya terpenjara dalam jaring, dia pun berpikir sebentar lagi kakaknya akan menjadi santapan manusia.
Brukk…..
Mas dan 10 temannya di masukan ke dalam ember yang telah di isi sedikit air. Dalam kesempitan teman-temannya mengamuk dan berusaha memperoleh oksigen.
Langkah demi langkah, terasa semakin menjauh. Maspun berusaha untuk keluar dari ember itu.
Bruk!! Mas pun terjatuh ke daratan. Awal mula Mas hanya terdiam, setelah beberapa detik dia sadar dia tidak dapat menangkap oksigen. Gelimpangan kesana-kemari berusaha untuk mencari, tapi usaha itu sia-sia. Dia tidak dapat menghirup oksigan. Sementara 10 temannya yang lain telah berada jauh darinya dan mungkin takdirnya telah tiba yaitu mereka menjadi santapan manusia.
‘’Miaong……Miaong….’’.
Tampak di arah kanan telah berdiri kucing yang sigap meraung.
‘’ Kucing, tolong jangan makan aku! Tapi tolonglah aku kembalian aku ke air!’’
Kucing hanya melotot terdiam seolah mendapat untung yaitu santapan enak di depan mata telah mengunggu.
Selangkah demi selangkah si Kucing mandekat. Rasa kasihan terhadap ikan Mas muncul dibenaknya. Dia membayangkan jika dirinya di posisi itu, diapun akan sangat berharap ada yang membantunya.
Sementara ikan Mas hanya terdiam denagn mata tertutup dan berusaha untuk bernapas. Setelah membuka mata, ikan Mas kaget. Ternyata ekornya telah berada di mulut Kucing. Dan kucing mulai berlari kencang. Menuju kolam ikan. Dan akhirnya Kucing melepaskan cengakramanya dengan melemparkannya ke air.
‘’ Kakak !!’’ Nila terharu melihat kakaknya selamat.
‘’ Ia Nila ini kakak. Kakak di tolong olah Kucing baik hati. Sekarang kakak perlu ke sana untuk berterimakasih’’.
Ikan Mas mendekat ke arah Kucing.
‘’ Terimakasih Kucing kau telah membantuku.’’
‘’ Sama-sama. Kita memang harus saling membantu. Sampai jumpa kawan!’’
‘’sampai jumpa…’’
Dengan berbalik badan, Kucing Pergi menjauhi ikan Mas.
Selesai
By SErii

kajian ayat surat at taubah

2.1 Ayat dan Terjemahan
“Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”. (At-Taubah 9:36)
“Sesungguhnya perbuatan mengundurkan (kehormatan itu dari satu bulan ke satu bulan yang lain) adalah menambah kekufuran yang menjadikan orang-orang kafir itu tersesat kerananya. Mereka menghalalkannya pada satu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, supaya mereka dapat menyesuaikan bilangan (bulan-bulan yang empat) yang telah diharamkan Allah (berperang di dalamnya); dengan itu mereka menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah. Perbuatan buruk mereka itu dihias dan dijadikan indah (oleh Syaitan) untuk dipandang baik oleh mereka. Dan (ingatlah) Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (At-Taubah 9:37)
2.2 Asbabun Nuzul
Surat at Taubah ayat 36
-
Surat at Taubah ayat 37
Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah atsar melalui Abu Malik yang menceritakan, bahwa pada zaman jahiliah orang-orang menjadikan satu tahun menjadi tiga belas bulan. Maka mereka menjadikan bulan Muharam sebagai bulan Shafar, sehingga mereka menghalalkan banyak hal yang diharamkan pada bulan Muharam tersebut. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram itu adalah menambahkan kekafiran.” (Q.S. At-Taubah 37).
2.3 Tafsir
(36) “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.(QS. 9:36)
(36) Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah menetapkan bilangan bulan itu dua belas semenjak Dia menciptakan langit dan bumi. Yang dimaksud dengan bulan di sini ialah bulan Qamariah karena dengan perhitungan Qamariah itulah Allah menetapkan waktu untuk mengerjakan ibadat yang fardu dan ibadat yang sunat dan beberapa ketentuan lain. Maka menunaikan ibadah haji, puasa, ketetapan mengenai idah wanita yang diceraikan dan masa menyusui ditentukan dengan bulan Qamariah.
Di antara bulan-bulan yang dua belas itu ada empat bulan yang ditetapkan sebagai bulan haram yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab. Keempat bulan itu harus dihormati dan pada waktu itu tidak boleh melakukan peperangan. Ketetapan ini berlaku pula dalam syariat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai kepada syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
Kalau ada yang melanggar ketentuan ini maka pelanggaran itu bukanlah karena ketetapan itu sudah berubah, tetapi semata-mata karena menuruti kemauan hawa nafsu sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum musyrikin. Biasanya orang-orang Arab amat patuh kepada ketetapan ini sehingga apabila seseorang terbunuh saudaranya atau bapaknya lalu ia bertemu dengan pembunuhnya pada salah satu bulan haram ini dia tidak akan berani menuntut balas, karena menghormati bulan haram itu. Padahal orang Arab sangat terkenal semangatnya untuk menuntut bela dan membalas dendam. Itulah ketetapan yang harus dipenuhi karena pelanggaran terhadap ketentuan ini sama saja dengan menganiaya diri sendiri karena Allah telah memuliakan dan menjadikannya bulan-bulan yang harus dihormati. Kecuali kalau kita dikhianati atau diserang pada bulan haram itu maka dalam hal ini wajib mempertahankan diri dan membalas kejahatan dengan kejahatan pula sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT yang Artimya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram, katakanlah: “Berperang pada bulan itu adalah dosa besar tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan membuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)”. (Q.S. Al-Baqarah: 217)
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin supaya memerangi kaum musyrikin karena mereka memerangi kaum Muslimin. Mereka memerangi kaum Muslimin bukan karena balas dendam, atau fanatik kesukuan atau merampas harta benda sebagaimana biasa mereka lakukan di masa yang lalu terhadap kabilah lain, tetapi maksud utama adalah menghancurkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan memadamkan cahayanya. Maka wajiblah bagi setiap muslim bangun serentak memerangi mereka sampai agama Islam itu tegak dan agama mereka hancur binasa. Hendaklah ditanamkan ke dalam dada setiap muslim semangat jihad yang berkobar-kobar serta tekad dan keyakinan bahwa mereka pasti menang karena Allah selamanya menolong orang-orang yang bertakwa kepada-Nya.
(37) “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.(QS. 9:37)
(37) Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa pengunduran bulan haram kepada bulan berikutnya seperti pengunduran bulan Muharam ke bulan Safar dengan maksud agar pada bulan Muharam itu diperbolehkan berperang adalah suatu kekafiran. Di samping orang yang berani mengundurkan bulan haram itu telah kafir kepada Tuhan dia pun bertambah kekafirannya karena menganggap dirinya sama dengan Tuhan dalam menetapkan hukum.
Telah jelas dan diakui semenjak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bahwa pada bulan-bulan haram itu tidak dibolehkan berperang tetapi karena orang-orang musyrikin itu tidak dapat menguasai dirinya untuk meninggalkan berperang selama tiga bulan berturut-turut yaitu pada bulan Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam, maka bulan itu digeser ke bulan lain sehingga mereka mendapat kesempatan untuk berperang pada bulan Muharam.
Hal ini biasa mereka lakukan ketika mereka berada di Mina. Ketika para jemaah haji berkumpul di sana berdirilah seorang pemimpin dari Bani Kinanah dan berkata: “Sayalah orang yang tak dapat ditolak keputusannya.” Para jemaah menjawab: “Benarlah apa yang engkau katakan itu dan tangguhkanlah untuk kami bulan Muharam ke bulan Safar.” Lalu pemimpin itu menghalalkan bagi mereka bulan Muharam dan mengharamkan bulan Safar, dan menamakan bulan Muharam itu dengan nama yang lain yaitu “Nasik”.
Demikianlah watak orang musyrik, mereka karena didorong oleh keinginan dan hawa nafsu, berani menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan berani pula mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, karena mereka telah dipengaruhi nafsu setan, dan tentu saja orang yang berwatak itu tidak akan mendapat petunjuk dari Allah swt.

2.4 Kaitan dengan Bidang Pendidikan
Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat jibril.
Mempelajari al-Qur’an merupakam suatu kewajiban umat islam, dengan mempelajari kandungannya kita dapat menambah ilmu pengetahuan tentang kehidupan dunia dan pengetahuan menuju kehidupan kekal di akhirat kelak.
Lebih jauh dari itu, mempelajari al-Qur’an dapat mendorong kita untuk lebih menyakini kebenaran dan kebesaran Allah Yang MAha Kuasa sebagai pencipta alam semesta bererta isinya.
Kajian tentang surat at Taubah ayat 36-37 yang artinya” Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” serta “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. ” Sangat berkaitan dengan bidang pendidikan yang saat ini kita pelajari yaitu tentang bulan-bulan islam serta empat bulang haram yang allah siratkan didalamnya. Serta dijelaskan pula bahwa Allah SWT sangat memurkai orang-orang yang melanggar aturannya (orang kafir).
Ayat tersebut diatas menganjurkan ilmu pengetahuan yaitu tentang “ Bulan-bulan yang dihormati dan perintah untuk memerangi kaum musyrikin ”, Dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, akan menambah keimanan kepada Allah SWT Disamping itu pengetahuan tentang bulan-bulan islam itu dapat bermanfaat untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia serta ketentraman umat manusia.
Dari penjelasan ketiga Hadist tersebut di atas, jelaslah bahwa setiap kita (insan-insan beriman) diwajibkan untuk menuntut ilmu. Islam memang memerintahkan umatnya (Muslimin Muslimat) menuntut berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk pribadi, untuk masyarakat, bangsa dan untuk kepentingan umat manusia.
Di era sekarag ini, tak heran sebagian orang lupa bahkan melupakan dengan sengaja bulan-bulan islam bahkan untuk memgingatnyapun sangat jarang di lakukan. Sebagai generasi bangsa serta sebagai umat islam kita wajib mwmpelajari serta mengetahui tentang bulan-bulan islamyang telah di tetapkan oleh allah SWT pada waktu ia menciptakan langit dan bumi. Bulan-bulan islan itu adalah Muharam al-Haram, Safar , Rabiulawal, Rabiulakhir, Jamadilawal, Jamadilakhir, Rajab, Syaaban, Ramadan, Syawal, Zulkaedah, dan Zulhijah
Sedangkan bulan haran ( yang di sucikan Allah) adalah:
1. Bulan Dzulqa’dah
2. Bulan Dzulhijjah
3. Bulan Muharram
4. Bulan Rajab
Serta allah juga menjelaskan bahwa mengulur bulan haram dan menghalalka bulan yang di haramkan itu sangat di benci oleh Allah SWT.
Dengan ini marilah kita terapkan pengetahian ini dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang bermanfaat dapat membuat kita lebih bermanfaat.
Uraian di atas menambah wawasan kita untuk menjadi lebih baik dan mendorong hidup lebih positif. Kajian ayat ini perlu di pelajari mengingat pentingnya pengetahuan tentang islam yang sangat bermanfaat. Tentunya kaitan dengan bidang pendidikan sangat penting karena segala sesuatu itu perilu reperensi atau acuan pada Al Qur’an. Sungguh luar biasa kebesaran serta keagungan Allah SWT. yang terdpat dalam Al Qur’an. Berbagai macam ilmu serta rahasia dunia dan akhirat di terangkan di dalamnya. Pengetahuan tentang islam sangat penting dalam bidang pendidikan untuk menciptakan generasi yang di ridhoi oleh Allah SWT.
2.5 Hikmah yang dapat diambil
Hikmah yang dapat di ambil dari kajian ayat diatas bahwa:
1. Allah SWT menetapkan 12 bulan dalan islam serta empat bulan haram (yang di sucikan Allah SWT) dengan mengetahui tentang hal itu umat manusia dapat mempunyai acuan untuk kehidupannya.
2. Bulan-bulan yang di tetapkan Allah untuk memperoleh pahala yang sebesar-besarnya telah di jeslaskan maka dari itu sangat bermanfaat untuk acuan umat manusia meraih pahala yang sebesar-besarnnya.
3. Dapat mengetahui orang-orang yang benci oleh allah sehingga kita dapat menjauhinya dengan tetap pada jalan yang lurus sesuai perintah-Nya.
2.6 Ayat-ayat yang Terkait
QS. Al-Baqarah [2] : ayat 217
[2:217] Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 2
[5:2] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 97
[5:97] Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
QS. At-Taubah [9] : ayat 2
[9:2] Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir.
QS. At-Taubah [9] : ayat 5
[9:5] Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpa mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

KAJIAN AYAT SURAT AT –TAUBAH AYAT 36-37

2.1 Ayat dan Terjemahan
“Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”. (At-Taubah 9:36)
“Sesungguhnya perbuatan mengundurkan (kehormatan itu dari satu bulan ke satu bulan yang lain) adalah menambah kekufuran yang menjadikan orang-orang kafir itu tersesat kerananya. Mereka menghalalkannya pada satu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, supaya mereka dapat menyesuaikan bilangan (bulan-bulan yang empat) yang telah diharamkan Allah (berperang di dalamnya); dengan itu mereka menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah. Perbuatan buruk mereka itu dihias dan dijadikan indah (oleh Syaitan) untuk dipandang baik oleh mereka. Dan (ingatlah) Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (At-Taubah 9:37)
2.2 Asbabun Nuzul
Surat at Taubah ayat 36
-
Surat at Taubah ayat 37
Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah atsar melalui Abu Malik yang menceritakan, bahwa pada zaman jahiliah orang-orang menjadikan satu tahun menjadi tiga belas bulan. Maka mereka menjadikan bulan Muharam sebagai bulan Shafar, sehingga mereka menghalalkan banyak hal yang diharamkan pada bulan Muharam tersebut. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram itu adalah menambahkan kekafiran.” (Q.S. At-Taubah 37).
2.3 Tafsir
(36) “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.(QS. 9:36)
(36) Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah menetapkan bilangan bulan itu dua belas semenjak Dia menciptakan langit dan bumi. Yang dimaksud dengan bulan di sini ialah bulan Qamariah karena dengan perhitungan Qamariah itulah Allah menetapkan waktu untuk mengerjakan ibadat yang fardu dan ibadat yang sunat dan beberapa ketentuan lain. Maka menunaikan ibadah haji, puasa, ketetapan mengenai idah wanita yang diceraikan dan masa menyusui ditentukan dengan bulan Qamariah.
Di antara bulan-bulan yang dua belas itu ada empat bulan yang ditetapkan sebagai bulan haram yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam dan Rajab. Keempat bulan itu harus dihormati dan pada waktu itu tidak boleh melakukan peperangan. Ketetapan ini berlaku pula dalam syariat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai kepada syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
Kalau ada yang melanggar ketentuan ini maka pelanggaran itu bukanlah karena ketetapan itu sudah berubah, tetapi semata-mata karena menuruti kemauan hawa nafsu sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum musyrikin. Biasanya orang-orang Arab amat patuh kepada ketetapan ini sehingga apabila seseorang terbunuh saudaranya atau bapaknya lalu ia bertemu dengan pembunuhnya pada salah satu bulan haram ini dia tidak akan berani menuntut balas, karena menghormati bulan haram itu. Padahal orang Arab sangat terkenal semangatnya untuk menuntut bela dan membalas dendam. Itulah ketetapan yang harus dipenuhi karena pelanggaran terhadap ketentuan ini sama saja dengan menganiaya diri sendiri karena Allah telah memuliakan dan menjadikannya bulan-bulan yang harus dihormati. Kecuali kalau kita dikhianati atau diserang pada bulan haram itu maka dalam hal ini wajib mempertahankan diri dan membalas kejahatan dengan kejahatan pula sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT yang Artimya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram, katakanlah: “Berperang pada bulan itu adalah dosa besar tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan membuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)”. (Q.S. Al-Baqarah: 217)
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin supaya memerangi kaum musyrikin karena mereka memerangi kaum Muslimin. Mereka memerangi kaum Muslimin bukan karena balas dendam, atau fanatik kesukuan atau merampas harta benda sebagaimana biasa mereka lakukan di masa yang lalu terhadap kabilah lain, tetapi maksud utama adalah menghancurkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan memadamkan cahayanya. Maka wajiblah bagi setiap muslim bangun serentak memerangi mereka sampai agama Islam itu tegak dan agama mereka hancur binasa. Hendaklah ditanamkan ke dalam dada setiap muslim semangat jihad yang berkobar-kobar serta tekad dan keyakinan bahwa mereka pasti menang karena Allah selamanya menolong orang-orang yang bertakwa kepada-Nya.
(37) “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.(QS. 9:37)
(37) Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa pengunduran bulan haram kepada bulan berikutnya seperti pengunduran bulan Muharam ke bulan Safar dengan maksud agar pada bulan Muharam itu diperbolehkan berperang adalah suatu kekafiran. Di samping orang yang berani mengundurkan bulan haram itu telah kafir kepada Tuhan dia pun bertambah kekafirannya karena menganggap dirinya sama dengan Tuhan dalam menetapkan hukum.
Telah jelas dan diakui semenjak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bahwa pada bulan-bulan haram itu tidak dibolehkan berperang tetapi karena orang-orang musyrikin itu tidak dapat menguasai dirinya untuk meninggalkan berperang selama tiga bulan berturut-turut yaitu pada bulan Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam, maka bulan itu digeser ke bulan lain sehingga mereka mendapat kesempatan untuk berperang pada bulan Muharam.
Hal ini biasa mereka lakukan ketika mereka berada di Mina. Ketika para jemaah haji berkumpul di sana berdirilah seorang pemimpin dari Bani Kinanah dan berkata: “Sayalah orang yang tak dapat ditolak keputusannya.” Para jemaah menjawab: “Benarlah apa yang engkau katakan itu dan tangguhkanlah untuk kami bulan Muharam ke bulan Safar.” Lalu pemimpin itu menghalalkan bagi mereka bulan Muharam dan mengharamkan bulan Safar, dan menamakan bulan Muharam itu dengan nama yang lain yaitu “Nasik”.
Demikianlah watak orang musyrik, mereka karena didorong oleh keinginan dan hawa nafsu, berani menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan berani pula mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, karena mereka telah dipengaruhi nafsu setan, dan tentu saja orang yang berwatak itu tidak akan mendapat petunjuk dari Allah swt.

2.4 Kaitan dengan Bidang Pendidikan
Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat jibril.
Mempelajari al-Qur’an merupakam suatu kewajiban umat islam, dengan mempelajari kandungannya kita dapat menambah ilmu pengetahuan tentang kehidupan dunia dan pengetahuan menuju kehidupan kekal di akhirat kelak.
Lebih jauh dari itu, mempelajari al-Qur’an dapat mendorong kita untuk lebih menyakini kebenaran dan kebesaran Allah Yang MAha Kuasa sebagai pencipta alam semesta bererta isinya.
Kajian tentang surat at Taubah ayat 36-37 yang artinya” Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” serta “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. ” Sangat berkaitan dengan bidang pendidikan yang saat ini kita pelajari yaitu tentang bulan-bulan islam serta empat bulang haram yang allah siratkan didalamnya. Serta dijelaskan pula bahwa Allah SWT sangat memurkai orang-orang yang melanggar aturannya (orang kafir).
Ayat tersebut diatas menganjurkan ilmu pengetahuan yaitu tentang “ Bulan-bulan yang dihormati dan perintah untuk memerangi kaum musyrikin ”, Dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, akan menambah keimanan kepada Allah SWT Disamping itu pengetahuan tentang bulan-bulan islam itu dapat bermanfaat untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia serta ketentraman umat manusia.
Dari penjelasan ketiga Hadist tersebut di atas, jelaslah bahwa setiap kita (insan-insan beriman) diwajibkan untuk menuntut ilmu. Islam memang memerintahkan umatnya (Muslimin Muslimat) menuntut berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk pribadi, untuk masyarakat, bangsa dan untuk kepentingan umat manusia.
Di era sekarag ini, tak heran sebagian orang lupa bahkan melupakan dengan sengaja bulan-bulan islam bahkan untuk memgingatnyapun sangat jarang di lakukan. Sebagai generasi bangsa serta sebagai umat islam kita wajib mwmpelajari serta mengetahui tentang bulan-bulan islamyang telah di tetapkan oleh allah SWT pada waktu ia menciptakan langit dan bumi. Bulan-bulan islan itu adalah Muharam al-Haram, Safar , Rabiulawal, Rabiulakhir, Jamadilawal, Jamadilakhir, Rajab, Syaaban, Ramadan, Syawal, Zulkaedah, dan Zulhijah
Sedangkan bulan haran ( yang di sucikan Allah) adalah:
1. Bulan Dzulqa’dah
2. Bulan Dzulhijjah
3. Bulan Muharram
4. Bulan Rajab
Serta allah juga menjelaskan bahwa mengulur bulan haram dan menghalalka bulan yang di haramkan itu sangat di benci oleh Allah SWT.
Dengan ini marilah kita terapkan pengetahian ini dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang bermanfaat dapat membuat kita lebih bermanfaat.
Uraian di atas menambah wawasan kita untuk menjadi lebih baik dan mendorong hidup lebih positif. Kajian ayat ini perlu di pelajari mengingat pentingnya pengetahuan tentang islam yang sangat bermanfaat. Tentunya kaitan dengan bidang pendidikan sangat penting karena segala sesuatu itu perilu reperensi atau acuan pada Al Qur’an. Sungguh luar biasa kebesaran serta keagungan Allah SWT. yang terdpat dalam Al Qur’an. Berbagai macam ilmu serta rahasia dunia dan akhirat di terangkan di dalamnya. Pengetahuan tentang islam sangat penting dalam bidang pendidikan untuk menciptakan generasi yang di ridhoi oleh Allah SWT.
2.5 Hikmah yang dapat diambil
Hikmah yang dapat di ambil dari kajian ayat diatas bahwa:
1. Allah SWT menetapkan 12 bulan dalan islam serta empat bulan haram (yang di sucikan Allah SWT) dengan mengetahui tentang hal itu umat manusia dapat mempunyai acuan untuk kehidupannya.
2. Bulan-bulan yang di tetapkan Allah untuk memperoleh pahala yang sebesar-besarnya telah di jeslaskan maka dari itu sangat bermanfaat untuk acuan umat manusia meraih pahala yang sebesar-besarnnya.
3. Dapat mengetahui orang-orang yang benci oleh allah sehingga kita dapat menjauhinya dengan tetap pada jalan yang lurus sesuai perintah-Nya.
2.6 Ayat-ayat yang Terkait
QS. Al-Baqarah [2] : ayat 217
[2:217] Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 2
[5:2] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
QS. Al-Maaidah (Al-Maidah) [5] : ayat 97
[5:97] Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
QS. At-Taubah [9] : ayat 2
[9:2] Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir.
QS. At-Taubah [9] : ayat 5
[9:5] Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpa mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Bentuk Kata


3.1 Bentuk Kata
Proses pembentukan kata menghasilkan bentuk kata dasar, bentuk kata berimbuhan, bentuk kata ulang dan bentuk kata majemuk.
Kata dasar adalah kata yang merupakan dasar pembentukan kata imbuhan. Perubahan kata imbuhan disebabkan karena adanya afiks atau imbuhan baik di awal (prefiks atau awalan), tengah (infiks atau sisipan), maupun akhir (surfiks atau akhiran) kata. Kata Ulang adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami pengulangan baik seluruh maupun sebagian. Sedangkan kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk satu arti baru.

3.2 Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang paling sederhana yang belum memiliki imbuhan. Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Kata dasar dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kata verbal, nominal dan adjektiva.
1) Kata Verbal
Yang dimaksud dengan kata verbal ialah kata yang pada tataran klausa cenderung menduduki fungsi P (predikat) dan pada tataran frase dapat dinegatifkan oleh kata tidak. Contoh kata berdiri pada tataran klausa Ahmad berdiri (Ahmad sebagai S dan berdiri sebagai P), pada tataran frase dapat dinegatifkan oleh kata tidak pada tidak berdiri.
Berdasarkan kemungkinannya diikuti frase dengan sangat ….yang berfungsi sebagai keterangan cara kata verbal dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu: (1) kata kerja, dan (2) kata sifat. Kata kerja ialah kata verbal yang dapat diikuti grase dengan sangat … sebagai keterangan cara. Contohya kata menoleh dapat diperluas menjadi menolen dengan sangat hati-hati, membaca menjadi membaca dengan sangat tenang. Sedangkan kata sifat ialah kata yang tidak dapat diikuti oleh frase dengan sangat …sebagai keterangan cara. Misalnya gugup, berhati-hati tidak bisa menjadi gugup dengan sangat tiba-tiba atau berhati-hati dengan sungguh-sungguh.
Ditinjau dari kemungkinannya diikuti O (obyek), kata kerja dapat dibedakan menhadi dua yaitu: (1) kata kerja transitif ialah kata kerja yang dapat diikuti obyek dan dapat dipasifkan, (2) kata kerja intransitif ialah kata kerja yang tidak dapat diikuti O, dan sudah barang tentu kata kerja intransitif yang dapat diikuti pelaku.
2) Kata Nominal
Kata-kata yang dapat menduduki fungsi S, P, O dalam klausa, dan dalam tataran frase tidak dapat dinegatifkan oleh kata tidak, melainkan oleh kata bukan dapat diikuti oleh kata itu, dan dapat mengikuti kata di atau pada sebagai aksisinya.
Yang termasuk golongan kata nominal ialah kata benda dan kata ganti ialah kata nominal yang tidak menggantikan kata lain, sedangkan kata ganti ialah kata nominal yang menggantikan kata lain. Kata ganti dapat dibedakan lagi berdasarkan kata yang digantikannya yaitu kata ganti: (1) diri ialah kata ganti yang menggantikan nama, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, yang dapat dibedakan lagi menjadi kata ganti diri: (a) pertama, misalnya: aku, saya, kami; (b) kedua, misalnya: engkau, kamu, kamu sekalian, anda; dan (c) ketiga, misalnya: ia, dia, beliau, mereka; (2) penunjuk ialah kata ganti yang dapat menggantikan nama, keadaan, dan suatu peristiwa atau perbuatan yaitu ini dan itu; tempat yaitu kata ganti yang menggantikan nama tempat, yaitu kata: sana, situ, dan sini.
3) Kata Adjektiva
Adjektiva adalah suatu kata yang sering muncul dalam bahasa tulis. Adjektiva memberikan informasi sifat terhadap nominal dan verbal yang umumnya mendahuluinya dalam suatu frase atau kalimat. Dalam kalimat Dia adalah gadis yang cantik misalnya adjektiva cantik bila diteliti lebih lanjut memiliki relativitas makna.
3.3 Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan adalah bentuk kata jadian dengan menambahkan imbuhan atau afiks terhadap kata dasar.imbuhan itu berupa satuan bunyi terkecil yang mengandung arti berupa morfem terikat. Cara membentuk kata jadian dengan imbuhan di sebut afiksasi. Sedangkan hasil bentuknya disebut kata berimbuha atau kata kompleks. Dilihat dari perkembangannya imbuhan terbagi atas :
• prefiks atau awalan adalah afiks yang terletak di awal bentuk kata dasar. misalnya : ber-, di-; ke-, me-, se-, pe-, per-, ter-, pre-, swa-
• Infiks atau sisipan adalah afiks yang disisipkan di dalam sebuah kata dasar. mesalnya :-em-, -er-, -el-,
• sufiks atau akhiran adalah afiks yang terletak di akhir kata dasar. misalnya : -i -an, -kan, -isme, -isasi, -is, -if
• konfiks adalah gabungan antara perfiks dan sufiks yang membentuk satu kesatuan dan bergabung dengan kata dasarnya secara serentak
1. Prefiks me- :
berfungsi membentuk kata kerja atau verba. Prefiks ini mengandung arti structural:
1. ‘melakukan tindakan seperti tersebut dalam kata dasar’ contoh: menari, melompat, mengarsip, menanam, menulis, mencatat.
2. ‘membuat jadi atau menjadi’ contoh : menggulai, menyatai, menjelas, meninggi, menurun, menghijau, menua
3. ‘mengerjakan dengan alat’ contoh : mengetik, membajak, mengail mengunci, mengetam
4. ‘berbuat seperti atau dalam keadaan sebagai’ contoh: membujang, menjanda, membabi buta
5. ‘mencari atau mengumpulkan’ contoh : mendamar, merotan.
2. Prefiks ber :
berfungsi membentuk kata kerja (biasanya dari kata benda, kata sifat, dan kata kerja sendiri) Prefiks ini mengandung arti :
1. ‘mempunyai’ contoh : bernama, beristri, beruang, berjanggut
2. ‘memakai’ contoh : berbaju biru, berdasi, berbusana.
3. ‘melakukan tindakan untuk diri sendiri (refleksif)’ contoh : berhias, bercukur, bersolek
4. ‘berada dalam keadaan’ contoh : bersenang-senang, bermalas-malas, berpesta-ria, berleha-leha.
5. ‘saling’, atau ‘timbal-balik’ (resiprok) contoh : bergelut, bertinju bersalaman, berbalasan.
3. Prefiks pe- :
berfungsi membentuk kata benda.(dan kata kerja, kata sifat, dan kata benda sendiri). Prefiks ini mendukung makna gramatikal :
1. ‘pelaku tindakan seperti tersebut dalam kata dasar’ contoh : penguji, pemisah, pemirsa, penerjemah, penggubah, pengubah, penatar, penyuruh, penambang.
2. ‘alat untuk me…’ contoh : perekat, pengukur, penghadang, penggaris
3. ‘orang yang gemar’ contoh : penjudi, pemabuk, peminum, pencuri pecandu, pemadat.
4. ‘orang yang di …’ contoh : pesuruh.
5. ‘alat untuk …’ contoh : perasa, penglihat, penggali.
4. Prefiks per- :
befungsi membentuk kata kerja imperatif. Mengandung arti :
1. ‘membuat jadi’ (kausatif) contoh: perbudak, perhamba, pertuan.
2. ‘membuat Iebih’ contoh. pertajam, perkecil, perbesar, perkuat
3. `menbagi jadi’ contoh: pertiga, persembilan.
5. Prefiks di-,
berfungsi membentuk kata kerja, dan menyatakan makna pasif, contoh : diambil, diketik, ditulis, dijemput, dikelola.

6. Prefiks ter-,
berfungsi membentuk kata kerja (pasif) atau kata sifat. Arti yang dimiliki antara lain ialah :
1. ‘dalam keadaan di’ contoh : terkunci, terikat, tertutup, terpendam, tertumpuk, terlambat.
2. ‘dikenai tindakan secara tak sengaja’, contoh : tertinju, terbawa, terpukul.
3. ‘dapat di-’, contoh : terangkat, termakan, tertampung.
4. ‘ paling (superlatif) ‘, contoh : terbaik, terjauh, terkuat, termahal, terburuk.

7. Prefiks ke-,
berfungsi membentuk kata bilangan tingkat dan kata bilangan kumpulan, kata benda, dan kata kerja. Sebagai pembentuk kata benda, prefiks ke- bermakna gramatikal ‘yang di … i’, atau ‘yang di … kan’, seperti pada kata kekasih dan ketua.

8. Sufiks -an,
berfungsi membentuk kata benda. Prefiks ini mengandung arti :
1. ‘ hasil ‘ atau ‘ akibat dari me- ‘ contoh : tulisan, ketikan, catatan, pukulan, hukuman, buatan,tinjauan, masukan.
2. ‘ alat untuk melakukan pekerjaan ‘ contoh : timbangan, gilingan, gantungan.
3. ‘ setiap ‘ contoh : harian, bulanan, tahunan, mingguan.
4. ‘ kumpulan ‘, atau ‘ seperti ‘, atau ‘ banyak ‘ contoh : lautan, durian, rambutan.

9. Konfiks ke-an,
berfungsi membentuk kata benda abstrak, kata sifat, dan kata kerja pasif. Konfiks ini bermakna :
1. ‘ hal tentang ‘ contoh : kesusastraan, kehutanan, keadilan, kemanusiaan, kemasyarakatan, ketidakmampuan, kelaziman.
2. ‘ yang di…i ‘ contoh : kegemaran ‘ yang digemari ‘, kesukaan ‘ yang disukai ‘, kecintaan ‘ yang dicintai ‘..
3. ‘ kena ‘, atau ‘ terkena ‘ contoh : kecopetan, kejatuhan, kehujanan, kebanjiran, kecolongan.
4. ‘ terlalu ‘contoh : kebesaran, kekecilan, kelonggaran, ketakutan.
5. ‘ seperti ‘ contoh : kekanak-kanakan, kemerah-merahan.
10. Konfiks pe-an,
berfungsi membentuk kata benda. Arfi konfiks ini di antaranya ialah :
1. ‘proses ‘ contoh : pemeriksaan ‘ proses memeriksa ‘, penyesuaian ‘ proses menyesuaikan ‘, pelebaran ‘ proses melebarkan ‘.
2. ‘ apa yang di- ‘ contoh : pengetahuan ‘ apa yang diketahui ‘, pengalaman ‘ apa yang dialami ‘ , pendapatan ‘ apa yang didapat ‘
11. Konfiks per-an,
befungsi membentuk kata benda. Arti konfiks ini ialah :
1. ‘ perihal ber- ‘ contoh : persahabatan ‘ perihal bersahabat ‘, perdagangan ‘ perihal berdagang ‘, perkebunan ‘ perihal berkebun ‘, pertemuan ‘ perihal bertemu ‘.
2. ‘ tempat untuk ber- ‘ contoh : perhentian, perburuan, persimpangan, pertapaan.
3. ‘ apa yang di ‘ contoh : pertanyaan, perkataan.
2.4 Kata Ulang
Kata Ulang adalah kata yang mengalami perulangan kata sebagian atau seluruhnya dan mengakibatkan makna yang berbada-beda.
Kata ulang dapat dibahas dengan meninjaunya dari segi bentuk dan dari segi makna atau fungsi perulangan kata.

1. Bentuk Kata Ulang
Menurut bentuknya, kata ulang dapat dibagi sebagai berikut.
1. Kata ulang penuh atau kata ulang murni, yaitu semua kata ulang yang dihasilkan oleh perulangan unsur-unsurnya secara penuh.
Misalnya: rumah-rumah, sakit-sakit.
2. Kata ulang berimbuhan atau kata ulang bersambungan, yaitu semua kata ulang yang salah satu unsurnya berimbuan: awalan, sisipan, atau akhiran.
Misalnya: berjalan-jalan, turun-temurun, tanam-tanaman.
3. Kata ulang berubah bunyi, yaitu kata ulang yang mengalami perubahan bunyi pada unsur pertama atau unsur kedua kata ulang.
Misalnya: bolak-balik, serba-serbi.
4. Kata ulang semu, yaitu kata yang hanya dijumpai dalam bentuk ulang itu. Jika tidak diulang, komponennya tidak memunyai makna atau bisa juga memunyai makna lain yang tidak ada hubungannya dengan kata ulang tersebut.
Misalnya: hati-hati, tiba-tiba, kunang-kunang, pura-pura, lumba-lumba, dll.
5. Kata ulang dwipurwa, yang berarti “dahulu dua” atau kata ulang yang berasal dari komponen yang semula diulang kemudian berubah menjadi sepatah kata dengan bentuk seperti itu. Dengan kata lain Kata ulang dwipurwa yakni perulangan kata yang dialami oleh sebagian dari kata dasar.
Misalnya: lelaki, tetua,pepohonan,tetangga.

2. Makna dan Fungsi Kata Ulang
1. Perulangan kata benda
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata benda.
1. Menyatakan benda itu bermacam-macam. Misalnya: buah-buahan, sayur-sayuran.
2. Menyatakan benda yang menyerupai bentuk dasar itu. Misalnya: anak-anakan, orang-orangan.
2. Perulangan kata kerja
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata kerja.
1. Menyatakan bahwa pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang atau beberapa kali.
Misalnya: meloncat-loncat, menyebut-nyebut.
2. Menyatakan aspek duratif, yaitu proses pekerjaan, pembuatan, atau keadaan yang berlangsung lama.
Misalnya: berenang-renang, duduk-duduk.
3. Menyatakan bermacam-macam pekerjaan.
Misalnya: cetak-mencetak, karang-mengarang.
4. menyatakan pekerjaan yang dilakukan oleh dua belah pikak atau berbalasan.
Misalnya: tembak-menembak, tuduh-menuduh
3. Perulangan kata sifat
Makna yang terkandung dalam perulangan dengan bentuk dasar kata sifat.
1. Menyatakan makna lebih (intensitas).
Misalnya: Berjalan cepat-cepat! Kerjakan baik-baik!
2. Menyatakan makna sampai atau pernah.
Misalnya: Tak sembuh-sembuh sakitnya walaupun ia sudah berobat ke luar negeri (tak pernah sembuh). Habis-habisan ia berbelanja (sampai habis).
3. Digabungkan dengan awalan se- dan akhiran -nya mengandung makna superlatif (paling).
Misalnya: Kerjakan sebaik-baiknya agar hasilnya memuaskan. Terbangkan layang-layangmu setinggi-tingginya.
4. Berlawanan dengan makna nomor satu atau melemahkan arti kata sifat itu.
Misalnya: Badanku sakit-sakit saja rasanya. (sakit di sana-sini, tapi tidak terlalu sakit) Kalau kepalamu pening-pening, bawalah tidur. (agak pening; pening sedikit)
5. Bentuk yang seolah-olah sudah mejadi ungkapan dalam bahasa Indonesia, makna perulangannya kurang jelas.
Misalnya: Jangan menakut-nakuti anak-anak karena akan memengaruhi jiwanya kelak.

4. Perulangan kata bilangan
1. Perulangan kata satu menjadi satu-satu memberi makna “satu demi satu”.
Misalnya: Peserta ujian masuk ruangan itu satu-satu.
2. Perulangan kata satu dengan tambahan akhiran -nya memberi makna “hanya satu itu”.
Misalnya: Ini anak saya satu-satunya.
3. Perulangan kata dua-dua, tiga-tiga, dst. memberi pengertian “sekaligus dua, tiga, dst.”.
Misalnya: Jangan masuk dua-dua karena pintu itu tidak lebar.
4. Bentuk perulangan berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu, dst. menyatakan makna “kelipatan sepuluh, seratus, seribu, dst..
Misalnya: Beribu-ribu orang yang mati dalam peperangan itu.
Bentuk perulangan kata bilangan dengan awalan ber-, saat ini sering diganti dengan bentukan dengan akhiran -an. Misalnya: berpuluh-puluh menjadi puluhan.
3.4 Kata Majemuk
Kata Majemuk atau Kompositum adalah gabungan dari da kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan arti. Pada umumnya struktur kata majemuk sama seperti kata biasa yaitu tidak dapat dipecahkan lagi atas bagian-bagian yang lebih kecil. Contoh: saputangan, matahari, orangtua, kakitangan, dan lain-lain. Namun pada kenyataannya, ada bentuk kata yang lazimnya dianggap sebagai kata majemuk, masih menunjukkan struktur yang renggang, dalam artian masih dapat dipisahkan oleh unsur-unsur lain.
1.4.1. Terjadinya Kata Majemuk
Menurut sejarah kata-kata majemuk itu pada mulanya merupakan urutan kata yang bersifat sintaksis. Dalam urutannya yang bersifat sintaksis tadi, tiap-tiap bentuk mengandung arti yang sepenuhnya sebagai sebuah kata. Tetapi lambat laun karena sering dipakai, hubungan sintaksis itu menjadi beku dan sejalan dengan gerak pembekuan tersebut, bidang arti yang didukung tiap-tiap bentuk juga lenyap dan terciptalah bidang arti baru yang didukung bersama. Dan dalam proses ini tidak semua urutan itu telah sampai kepada taraf terakhir. Ada urutan kata yang masih dalam gerak ke arah pembekuan, ada yang sudah sampai kepada pembekuan itu yang masih dalam gerak itu dapat disebabkan karena gabungan itu memang sifatnya sangat longgar atau karena istilah tersebut baru saja tercipta.
Kata-kata yang masih dalam gerak inilah yang masih dapat dipecahkan strukturnya dengan meyisipkan kata-kata lain di antaranya, atau dapat dikembalikan kepada bentuk lain dengan cara transformasi. Tetapi karena frekuensi pemakaian tinggi, serta keterangan yang menerangkan bentuk itu harus selalu mengenai kesatuannya, maka kata-kata tersebut dimasukkan juga ke dalam kata majemuk.
Contoh: Rumah makan, walaupun strukturnya agak longgar, namun sering dipakai sebagai satu kesatuan arti; di samping itu keterangannya harus menerangkan keseluruhannya. Rumah makan yang baru; ‘yang baru’ bukan menerangkan makan saja atau rumah saja, tetapi seluruh kesatuan itu.
1.4.2. Sifat Kata Majemuk
Berdasarkan sifat kata majemuk dengan melihat adanya inti dari pada kesatuan itu, maka kata majemuk dapat dibagi atas:
a. Kata majemuk yang bersifat eksosentris.
b. Kata majemuk yang bersifat endosentris.
Kata majemuk yang bersifat eksosentris adalah kata majemuk yang tidak mengandung satu unsure inti dari gabungan itu. Dengan kata lain kedua-duanya merupakan inti. Contoh: tuamuda, hancurlebur, kakitangan, dan lain-lain.
Sebaliknya, jika ada satu unsur yang menjadi inti dari gabungan itu maka sifatnya endosentris. Contoh: saputangan, orangtua, matahari, dan lain-lain, dimana sapu, orang, dan mata merupakan unsur intinya.
1.4.3. Ciri-ciri Kata Majemuk
Ciri kata majemuk antara lain sebagai berikut:
a. Gabungan itu membentuk satu arti yang baru.
b. Gabungan itu dalam hubungannya ke luar membentuk satu pusat, yang menarik keterangan atas kesatuan itu, bukan atas bagian-bagiannya.
c. Biasanya terdiri dari kata-kata dasar.
d. Frekuensi pemakaiannya tinggi.
e. Terutama kata-kata majemuk yang bersifat endosentris, terbentuk menurut hukum DM (Diterangkan mendahului Menerangkan).
2.2.4. Bentuk Perulangan pada Kata Majemuk
Pada dasarnya karena kata-kata majemuk membentuk suatu kesatuan maka bentuk-ulangnya harus secara penuh yaitu diulang keseluruhannya.
Contoh: rumah sakit-rumah sakit, saputangan-saputangan
Tetapi seringkali kita menjumpai hal-hal yang sebaliknya yaitu perulangan yang dilakukan bukan atas keseluruhannya melainkan hanya sebagian saja.
Contoh: rumah-rumah sakit, sapu-sapu tangan
Dalam pemakaian bahasa sehari-hari ada kecenderungan untuk mengadakan penghematan dalam pemakaian bahasa, dasar ekonomis. Dasar ekonomis ini hanya dapat digunakan bila gerak yang berlawanan itu tidak membawa perbedaan paham. Dalam hubungan ini agaknya dapat dijelaskan oleh kata ulang dwipurwa dalam bahasa Indonesia, yakni mula-mula orang mengulang seluruhnya, tetapi karena prinsip ekonomis tadi, akhirnya hanya sebagian saja dari lingga yang diulang.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Dari berbagai uraian dan pembahasan yang telah disampaikan dalam bab-bab sebelumnya mengenai Bentuk kata maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Proses pembentukan kata menghasilkan bentuk kata dasar, bentuk kata berimbuhan, bentuk kata ulang dan bentuk kata majemuk.
Kata dasar adalah kata yang merupakan dasar pembentukan kata imbuhan. Perubahan kata imbuhan disebabkan karena adanya afiks atau imbuhan baik di awal (prefiks atau awalan), tengah (infiks atau sisipan), maupun akhir (surfiks atau akhiran) kata. Kata Ulang adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami pengulangan baik seluruh maupun sebagian. Sedangkan kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk satu arti baru.

3.2 Saran
Setelah menyelesaikan penyusunan makalah ini, penyusun mempunyai beberapa saran yang mungkin bisa di pertimbangkan, yaitu :
1. Mahasiswa di sarankan untuk mengetahui jenis bentuk kata, untuk mengoptimalkan pemahaman dalam pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia.
2. Mahasiswa diharapkan mampu menerapkan bentuk kata dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
85. Membina Budi Pekerti Bahasa Indonesia Baku. Bandung:
Pustaka Prima
Prof. Dr. Achmad. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:
Prenada Media Group

http://basindo.edublogs.org/2008/05/14/kata-ulang Badudu, J.S. 19
by:Asri Kurnia
Jubaedah
Novayana
Rizki Tri Jayanti
Yulianti Silvana D.

Permainan Tradisional yang Terlupakan

Permainan Tradisional yang Terlupakan
Di era modern seperti sekarang ini, banyak inovasi-inovasi baru bermunculan baik dibidang teknologi maupun dibidang lain. Bahkan hampir semua tatanan kehidupan banyak dipengaruhi oleh zaman. Salah satu diantarang adalah permainan tradisional (traditional game). Hampir semua anak kecil sudah tidak lagi mengenal permainan tradisional terutama didaerah perkotaan.
Mainan tradisional merupakan mainan yang berupa alat-alat sederhana yang hamper bisa di temukan di alam sekitar sebagi media belajar anak zaman dulu. Mainan tradisional di daerah Majalengka saja banyak sekali seperti kelereng, congklak gangsing yang terbuat dari bambu, pistol dari bambu, dan masih banyak lagi. Bukan hanya itu tetapi permainan tradisional sekarang hampir terlupakan, seperti; Petak umpat, dadaluan (B. Sunda) hampir tidak pernah dimainkan lagi oleh anak zaman sekarang.
Di era sekarang ini permainan tradisional hampir tersisihkan oleh kecanggihan teknologi, contoh kecil setiap pulang sekolah, anak-anak hanya bisa bermain Play Station (PS), bermain game dikomputer. Minat mereka akan permainan tradisional sangat kurang.
Permainan tradisional memang membutuhkan banyak waktu dengan teman, itu dapat mempengaruhi anak. Pengruh itu muncul baik positif maupun negatif. Tetapi permainan modern seperti Play Station juga memberikan pengaruh pada anak baik positif maupun negatif.
Pengaruh bermain Play Station yaitu cenderung susah bergaul dan tidak mempunyai banyak teman karena anak hanya bermain di rumah, dan bermain sendiripun bisa dilakukan. Sedangkan permainan tradisional membutuhkan banyak orang dalm bermain sehingga anak akan mempunyai banyak teman. Semua itu tidak terlepas dari pengaruh positif maupun negatif bagi anak. Walaupun permainan tradisional sederhana tetapi, itu juga memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak.
Perkembangan teknologi harus semakin berkembang tetapi tidak menghilangkan sejarah awal perkembangan.

Pidato”kepahlawanan”

Bismillahirohmanirrohimm….

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…..

Alhamdulillahirobbil ‘alamin…

Wabihinasta’inu alaumuriddunya waddin, Waala alihi wasahbihi azm’in

Ammaba’du………..

Yang terhormat Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Majalengka

Yang terhormat Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Majalengka

Yang terhormat guru-guru SMA Negeri 1 Majalengka

Beserta seluruh murid SMA Negeri 1 Majalengka yang berbahagia.

Puji Syukur saya ucapkan kepada Allah SWT  atas segala karunia yang telah diberikan kepada kita semua, Saya juga berterima kasih kepada guru-guru yang telah menyelenggarakan acara ini. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung acara ini.
Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak kita semua untuk mengingat kembali, para pejuang bangsa demi mencapai merdeka.

Alangkah bahagianya saya selaku murid SMA Negeri 1 MAjalengka, pada hari ini ! pada hari ini, kita merayakan hari Sumpah Pemuda, yang bertempat dilapangan SMA Negeri 1 Majalengka tanggal 28 Oktober ini. Dengan memperingati Sumpah Pemuda  semoga kita lebih semangat /bangkit untuk memajukan permuda pemudi agar berguna bagi bangsa, Negara dan Agama.Pertambahan anak umur sekolah yang cepat dan pertambahan lulusan tiap jenjang pendidikan yang besar, tapi tidak diikuti penambahan prasarana dan sarana pendidikan yang cepat dan memadai, menimbulkan masalah bagi pemerintah untuk memberikan “generasi muda yang bersih dan berkwalitas” .

Indonesia kita adalah negeri yang bertaburan para pahlawan. Setiap jengkal tanahnya menyimpan bekas kucuran darah, keringat dan air mata para pahlawan. Namun entah mengapa setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, setelah tak ada lagi wajah-wajah asing yang berkeliaran memanggul senjata di pelosok-pelosok negeri ini, tiba-tiba saja kita kesusahan untuk menemukan para pahlawan. Kita kesulitan untuk menyebut seseorang itu pahlawan atau bukan. Indonesia kita kesulitan mencari para pahlawan. Mengapa demikian ?

Kesulitan menentukan siapa saja para pahlawan adalah sebuah masalah tersendiri. Ini kesalahan terbesar yang harus segera diselesaikan. Permasalahannya, yang sering tergambar dalam benak kita adalah sosok penuh ketenaran yang berjuang dengan dedikasi tinggi membela rakyat, bangsa, dan negara.

Mari mundur sejenak kita tengok sejarah, tanyakan pada para pahlawan yang kita kenal, apakah semua prestasi dan kerja besarnya didekasikan hanya untuk disebut dengan gelar pahlawan ?

Jawabannya, TIDAK

Biarlah yang sudah terlanjur disebut pahlawan pada masa dulu tetap menjadi pahlawan. Tugas kita sekarang bukan lagi menjadi pahlawan, namun menjaga sejarah kepahlawanan mereka. Siapapun kita dan dimanapun posisi kita. Para pelajar, mahasiswa harus menghargai sejarah kepahlawanan bangsa ini. Ini artinya, kerja-kerja kita haruslah membangun bangsa ini, lewat karya intelektual, usulan dan gagasan yang membangun.

Seiring dengan itu mari kita tengok Sejarah Sumpah Pemuda!

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda.

Rapat pertama, lima gagasan faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Rapat Ketiga, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, berbunyi :

PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,
TANAH INDONESIA.

KEDOEA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE,
BANGSA INDONESIA.

KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN,
BAHASA INDONESIA

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Banyak sekali makna yang dapat kita petik dari peringatan Sumpag Pemuda ini.

Eksistensi pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah penting, karena pemuda pemudi yang memiliki potensi untuk mewarnai perjalanan sejarah sebuah bangsa dan umat manusia pada umumnya.

Bagi kaum muda Indonesia, Hari Sumpah Pemuda harus bisa memicu inspirasi dan motivasi baru untuk memajukan bangsa Indonesia. Setiap tahun kita berkesempatan merasakan kembali tekad, semangat, dan harapan pemuda-pemudi di zaman pergerakan itu akan Indonesia yang bersatu: Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa Indonesia.

Cita-cita luhur itu telah merajut kemajemukan menjadi suatu keutuhan yang bertujuan merdeka dan bebas dari kekangan untuk menentukan masa depan sendiri. Para pemuda-pemudi saat itu juga sangat sadar bahwa tuntutan mereka mensyaratkan tanggung-jawab bersama yang terus-menerus untuk membuktikan kemampuan bangsa ini mewujudkan harapan-harapan rakyatnya. Kekuatan tekad dan semangat mereka ini adalah dasar dari karakter bangsa Indonesia, khususnya para pemuda, yang harus terus kita kembangkan.

Pemuda Indonesia dengan kepribadian Indonesia yang tertanam dalam jiwanya akan mampu berpengaruh besar dalam menentukan arah dan langkah bangsa ketika menghadapi persoalan-persoalan kini dan di masa depan. Untuk itu, pemuda Indonesia yaitu kita semua  harus terus-menerus mempersiapkan diri, baik secara individu maupun bersama-sama, memupuk, memelihara, dan memperkokoh kepribadian Indonesia untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Majulah bangsaku, bangkitlah negeriku.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Majalengka, 05 Nopember 2010

Asri Kurnia

biografi DIDI KARTASASMITA

Didi Kartasasmita di babarkeun di Tasikmalaya, 20 Nopember 1911. pupusna di Jakarta, 8 Oktober 1996.

Ti yuswa 8 taun tebih serang sepuhns margi sakola di ELS ( Europeeshe Lagere School ), PHS ( Prins Hendrik School ), HBS (Hoogere Burger School ),jeung KMA ( Koninklijke Militaire Academie ) di Breda Walanda. Sadayana mangrupi sakola-sakola pikeun urang Eropah. Sarengsena sakola do Walsnda, dina taun 1935 di angkat jadi Perwira KNIL ( Koninklijke Neserland Indish Leger ) sarta di tempatkeun di Batalion X Jakarta, di Kompi Jawa. Lajeng di Kompi Manado sareng Walanda totok. Kumargi pegeuh nyepeng ‘kasundaanana’ anjena alim di samikeun sareng uramg walanda.

Dina taun 1939, Didi di alihkeun ka Maluku, ternate, lantaran bentrok sareng ‘atasanana’ nu totok urang Walanda. Waktos aya pendudukan Jepang, anjeuna di tarik tugasna ti Ambon, dugi kaditahana, naming teu lami. Dugi ka ayana ‘proklamasi kamerdekaan’ 17 Agustus 1945.

Dina sasih Juli 1947 Walanda ngayakeun Agresi Militer kahiji, nu nimbulkeun reaksi hebat ti Dewan kaamanan PBB, sarta ngalahirkeun KTN ( Komisi Tiga Negara ), Didi di angkat janten anggota Komisi Teknis Delegasi Indonesia dina rundingan sareng Walanda, nu di pupuhuan ku Dr. Leimana.

Awal oktober 1948, anjeuna mulih ka Bandung, naming di tengah jalan di daerad Purwokerto di culik ku Walanda, margi di anggap hanta ka Walanda, sarta di tahan di Semarang dugi ka sasih januari 1949.

Sasih Agustus 1949, ku Mr, Iwa Kusumasumantri, anjeuna di tarik ka Kementrian Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan ( PTIP ), namung ku Pa Toyib Hadiwijaya, di uihkeun deui ka Kementrian Dalam Negeri dugi ka pangsiuna dina taun 1966.

SI KABAYAN NGAJUAL MUNDING

Si Kabayan buburuh meuncit munding. Ari buruhna hulu munding. Meuncit mundingna dua, jadi buruhna oge munding dua.

Hulu munding teh ku Si Kabayan di jinjing dibawa balik. Ari di tengah jalan, Si kabayan nyimpang heula ka warung meuli dadung. Dadung the tambang gede, paragi nalian beuheung munding.

Beuheung hulu munding teh ku Si Kabayan di talian ku dadung. Tuluy Si Kabayan indit ka gawir, ngala tangkal awi haur. Haur the di seukeutan tungtungna, di pake nyolok hulu munding.

Geus kitu Si Kabayan indit ka walungan. Hulu munding teh di tancebkeun duanana, lebah leuwi walungan nu rada deet. Tuluy Si Kabayan kokodok, ngala bogo, meunang opat. Bogo teh ku Si Kabayan di asupkun kana ceuli munding. Atuh puguh wae ti kajauhanmah, hulu munding teh siga munding enyaan keur ngeueum. Cuelina ge usik-usikan, da bogona hayangeun kaluar.

Si Kabayan cingogo sisi walungan bari nyeukel dadung, nyaeta-nyaeta tukang munding keur nungguan mundingna.

Teu lila lar aya nu ngaliwat rek kapasar.

“tah kabeneran yeuh, manggih munding. Siga galede pisan munding teh nenjo hulunamah, “kitu ceuk nu ngaliwat teh. “Rek di jual mundingna jang?”Nu ngaliwat nanya ka Si Kabayan.

“Bade, kulan.”ceuk Si Kabayan.

“Sabaraha rek di jualna?”

“Ah, di mirah keun bae, sajuta dua.”. Ceuk Si kabayan.

“Beunang di tawar?”

“Nya, mangga.”tembal Si Kabayan.

Saenggeus rebut tawar, jadi wae munding Si Kabayan di jual lima ratus rebu dua.

“Ulah waka di hanjakeun munding teh, mang, da kakara sakeudeung ngeuuemna.Sok ngamuk ari can sebeuheun ngeuuem teh.”ceuk Si Kabayan Bari gura giru indit.

Nu meuli munding diuk di handapeun tatangkalan, ngadagoan mundingna sebeuheun ngeueum.

Kulantaran harita teh panas poe, nu meuli munding teh lulenggutan tunduheun, katurug-turug angina leutik ngahiliwir, ngan reup wae nu meuli munding teh kasarean.

Barang lilir, panon poe geus lingsir ngulon. Manehna gancang hudang. Dadung di betot, rek ngahanjatkeun mundingna. Tapi di betot teh, pageuh pisan.

“Sugan ngadat munding teh,” kitu piker nu meuli munding.

Sakali deui ku manehna, dadung di betot tarik pisan. Ari polonyon, bet huluna wungkul munding teh. Atuh puguh wae manehna ambeukeun ka Si Kabayan.

Si Kabayan di susul, di teangan ka unggal imah, ditanyakeun. Lila-lila ka panggih oge Si Kabayan teh, keur diuk wae dina golodog, bari sila tutug.

“Tah geuning kapanggih,” ceuk nu meuli munding bari ngalungkeun hulu munding ka hareupeun Si Kabayan.

“Maneh nipu, nya, Ngabobodo, pajar munding padahal huluna wungkul. Pulangkeun duit aing, ari teu haying disurilam mah!”

“Nyaheug teuing,”tembal Si Kabayan. “Matak ulah sok bodo bisi di bobodo batur.”Ceuk Si Kabayan teh deuih, bari mulangkeun duit.

 

kandungan jeruk

jjjllllllAntibakteri

Para ahli dari Universitas Jagiellonian, Polandia, menemukan, ekstrak jeruk bali mengandung antibakteri dan antioksidan yang bisa “menenangkan” sistem getah perut untuk membantu proses penyembuhan. Dr. Thomas Brzozowski, ketua penelitian, menyarankan agar para penderita tukak lambung memasukkan jeruk ke dalam diet mereka meski secara alamiah mengandung asam.

Selama ini penderita luka lambung diminta tidak memasukkan jeruk ke dalam diet mereka, tetapi penelitian ini justru menyarankan sebaliknya. Ekstraknya diyakini bisa mengurangi kadar enzim COX-1 dan COX-2 yang ada dalam obat-obatan.
Kondisi ini memainkan peran utama dalam upaya penyembuhan lambung. Para peneliti yakin ekstrak jeruk bali mampu menyatu dengan kedua enzim itu dalam proses penyembuhah lambung.

Tak hanya bermanfaat menjaga kesehatan jantung dan lambung, jeruk bali juga baik untuk kesehatan gusi karena kadar vitamin C-nya tinggi. Hal ini diungkapkan Peneliti di Universitas Friedrich Schiller, Jerman, yang menemukan kaitan kesehatan gusi pada mereka yang banyak mengonsumsi jeruk bali.

Penelitian melibatkan 58 responden yang mengalami kerusakan gusi yang cukup parah. Kenyataannya, jeruk bali membawa dampak positif setelah dikonsumsi setiap hari selama sekitar dua minggu. Bahkan, dampak positif itu juga berlaku bagi perokok maupun bukan perokok. Seperti diketahui merokok adalah salah satu penyebab utama kerusakan gusi..

Manfaat lain jeruk bali, yakni membersihkan sel darah merah yang telah tua didalam tubuh dan menormalkan hematokrit (persentase sel darah per volume darah). Sekaligus sebagai sumber antioksidan penangkal kanker.

Gaya hidup sehat

sssssssKita semua pasti sudah tahu dan faham bahwa dari berbagai penyakit dan macam-macam penyakit terkini, sumber dari akarnya tiada lain adalah Gaya Hidup (Way of Life) yang keliru. Jika kita menjalani gaya hidup sehat/benar, tentu penyakit akan jauh dari kita. Coba kita lihat orang-orang yang hidup dijaman dahulu atau para orang tua kita, apakah banyak yang mengalami penyakit seperti sekarang ini?

Sebenarnya gaya hidup sehat/benar bisa diungkapkan hanya dengan 5 (lima) kalimat:
1. Ibadah (Selalu ingat kepada Maha Pencipta)
2. Memakan makanan yang pantas
3. Berolahraga dengan takaran yang sesuai
4. Stop merokok dan kurangi alkohol
5. Mental bathin tenang dan seimbang (berkaitan dengan poin 1).

Dengan lima kalimat aturan gaya hidup sehat tersebut di atas, berbagai penyakit, seperti tekanan darah tinggi, stroke & jantung koroner, diabetes, tumor dapat dikurangi resikonya. Gaya hidup sehat ini dapat dilakukan tanpa mengeluarkan uang sesen pun, sehingga gaya hidup sehat sebenarnya sangat mudah dan efeknya pun luar biasa. Nah mengapa perlu adanya perubahan sikap mental? Ya sikap mental harus diubah dari sikap “pengobatan” diubah menjadi “pencegahan sakit”. Karena dengan gaya hidup sehat tersebut membuat kita untuk selalu mencegah sakit.